Malang is my hometown ...

My book about food trip traveling guide in Malang, East Java Province, Indonesia, just published. Please visit http://wisatakulinermalang.blogspot.com for more information ...


View Larger Map

Kota Malang dilihat dari satelit. Silakan geser-geser dengan menggunakan mouse untuk mencari lokasi yang Anda cari dalam peta ini. Semoga peta ini bisa bermanfaat bagi Anda semua.

Malang, East Java Province, Indonesia from satelit view. Please drag using your mouse to searching for location that you curious to know. I hope this map would be of use for all of you that visiting this town. Welcome to Malang, East Java Province, Indonesia.

Malang, Oost-Java Provincie, Indonesiƫ uit satelit bekijken. Beweeg uw muis om te zoeken naar locatie die u benieuwd. Ik hoop dat deze kaart zou gebruiken voor al u dat uw bezoek aan deze stad. Welkom in Malang, Oost-Java Provincie, Indonesiƫ.

About Me

Foto Saya
Haryo Bagus Handoko
Hai, bagi yang belum kenal, namaku Haryo Bagus Handoko. Asal Malang, Jawa Timur, Indonesia. Aku seorang penulis, wartawan dan juga fotografer untuk berbagai media massa. Bagi yang ingin tahu lebih banyak tentang aku, silakan kunjungi blogku di: http://haryobagushandoko.sitesled.com dan http://haryobagushandoko.multiply.com
Lihat profil lengkapku

Guest Book - Buku Tamu

Rabu, 15 Agustus 2007

Di Cylobyte Terakhir

Cylobyte demi cylobyte kutelusuri
Proxy demi proxy kujelajahi
Chanel demi chanel ku trus mencari
Demi memburu cintamu
Mencari jejak digitalmu yang tersisa
Jejak digital yang pernah kau ukirkan di relung hati digitalku
Saat kau dan aku bercinta dalam ribuan kata dan bahasa
Berselimutkan jutaan kode biner alam maya
Kuketuk dan kudengarkan pintu demi pintu
Demi mencari dirimu
Kutelusuri jutaan pintu berkode
Hanya untuk mencari dirimu
Jutaan Pintu digital teracak berhambur menyembunyikanmu
Jutaan kuadran semuanya semu
Menyembunyikan setiap jejak kehidupanmu
Sudah berapa ribu baris kode kujelajahi
Namun tak satupun jua menunjukkan jejakmu
Dimanakah engkau menghilang dewiku
Dimanakah engkau wahai Avatarku
Gadis Avatarku dari dunia digital yang semu
Dengan gaun cantik indah digital binermu
Yang memancarkan jutaan spektrum warnamu
Ku kan tetap mencarimu
Mencarimu di antara jutaan nanomikron spektrum warnamu
Ku kan tetap setia menunggumu
Seperti saat dulu kedua ujung telunjuk jari kita bertemu
Walau terpisah oleh ribuan ruang dan waktu
Di cylobyte dan kuadran terakhir aku menantimu

Aku Menunggumu

Kutatap jam tangan murah di pergelangan tanganku
Detik demi detik telah berlalu
Jarum jam telah jauh meninggalkan waktu yang kau janjikan
Waktu yang katamu kau luangkan untukku
Untuk sekedar kita melepas rindu
Tapi mana janjimu
Tak juga tampak sosok tubuhmu
Di keremangan senja yang semakin gelap
Ku menunggu di taman ini
Menunggu kehadiranmu
Yang tak kunjung tiba
Tapi mana janjimu
Sudah ketiga kalinya kau ingkari janjimu
Sudah ketiga kalinya kau menghindariku
Bilang saja kalau kau bosan padaku
Gadis borju pemburu saku
Kau mungkin tak lagi doyan padaku
Karena tak satu peser pun uang dalam sakuku
Aku baru sadar itulah dirimu
Dirimu yang cantik penuh tipu rayu
Gadis keji berdarah biru
Biarlah engkau menjadi masa laluku

Rona Kehidupan

Kulangkahkan kakiku menyusuri kerasnya kehidupan
Tapak demi tapak aku terseok dan meronta
Hanya demi sanak keluarga
Wajah-wajah berpaling membuang muka
Tanpa peduli kami kaum papa
Dengan perut yang kosong meronta
Mengais sesuatu yang tersisa
Walau sesuatu itu hampir tak berharga
Namun itu bisa menyambung asa
Bagi kami kaum yang papa
Yang berusaha bertahan di kerasnya masa
Terseok aku untuk kesekian kalinya
Dengan punggung yang sudah renta
Aku mencari sesuap nasi untuk keluarga

(Puisi ini dipersembahkan untuk para pemulung kota Malang, para pahlawan kehidupan)

Tipu Daya


Panggung dunia panggung sandiwara
Manusia-manusia hipokrit bermuka dua
Tersebar di mana-mana
Topeng dan polesan palsu sembunyikan watak licik mereka
Kadang bertopeng agama atau hak asasi manusia
Kadang bertopeng kepentingan rakyat jelata
Kadang bertopeng kepentingan negara
Padahal semua demi ambisi pribadi mereka
Kadang kedok mereka terbuka
Walau terbukti mencuri uang negara
Tetap saja bisa tertawa-tawa
Sambil pasang tampang tak berdosa
Masih bisa berkeliaran ke mana-mana
Tanpa merasa sedikitpun berdosa
Semua demi kepentingan rakyat jelata
Semua demi kepentingan agama
Semua demi kemakmuran negara
Tapi mana buktinya
Kesejahteraan rakyat melayang sia-sia
Semua hanya jargon dan propaganda
Puluhan tahun tetap hidup merana
Bahkan sejak negeri ini merdeka
Rakyat tetap miskin dan papa
Tetap tergusur di mana-mana
Lepas dari mulut singa
Masuk ke mulut buaya
Kapan rakyat benar-benar merdeka
Kapan bisa hidup makmur sejahtera
Seperti kata jargon dan propaganda
Kalau itu benar adanya
Ataukah hanya sekedar permainan kata-kata
Rakyat menunggu pembuktiannya

(Puisi ini dipersembahkan untuk mengingatkan kita betapa banyak kemiskinan di negeri ini akibat ulah segelintir oknum oportunis yang bermuka dua)

Minggu, 12 Agustus 2007

Asa

Tubuh-tubuh lemah lunglai
Sepenuhnya bertumpu pada tungkai
Wajah kuyu dan tubuh sudah seperti bangkai
Tiada lagi semangat untuk memulai
Karena tangan dan kaki lemah sudah terkulai
Terseok-seok menyusuri pantai
Semua yang tersisa hanyalah dataran landai
Padahal dahulu semuanya indah permai
Samar-samar terdengar sorak-sorai
Orang-orang datang menolong beramai-ramai
Ada yang membawa uang tunai
Ada pula yang membawa nasi dan gulai
Sekedar pengganjal perut yang sudah lama tidak memuai
Orang-orang datang menolong beramai-ramai
Reruntuhan desa yang tadi sepi sekarang ramai
Tubuh-tubuh tergeletak lunglai
Bahkan ada yang sudah menjadi bangkai
Bilakah harapan dan asa tercapai
Bila semua yang ada sudah terbengkalai
Kapankah semua akan kembali indah permai
Walau tubuh bau kecut seperti tapai
Tak henti memanggul tubuh-tubuh yang terkulai
Menolong yang tersisa beramai-ramai
Membangun tempat berteduh walau hanya balai-balai
Bayi-bayi kembali tidur terbuai
Di pangkuan ibu pertiwi yang indah permai
Masih ada hari esok untuk memulai
Menata kembali semua yang rusak terbengkalai
Semua orang kembali bersorak sorai
Terdengar pula suara nyanyian serunai
Merdu pula kicauan burung punai
Setiap orang kini bergerak sigap bagai cerpelai
Membangun kembali asa yang semula lunglai
Demi ibu pertiwi yang indah permai
Jangan biarkan semua hilang tergadai

Jalan Kehidupan

Dengan langkah gontai kususuri jalan berdebu ini
Sebuah jalan panjang yang berliku
Langkah demi langkah tapak demi tapak
Aku berjalan terus menuju cahaya
Menuju MatahariMatahari dengan sinar terangnya
Sinar yang menyilaukan
Sinar yang penuh impian
Walau dengan tubuh lemah dan wajah kusut
Ku terus melangkah menuju sinar harapan
Sinar kehidupan
Walau mungkin semua hanya fatamorgana
Namun dengan tatapan lurus ke depan
Kucoba tetap tegak berdiri
Menggapai impian
Dengan langkah gontai kususuri jalan berdebu ini
Satu-satunya harapanku
Demi menggapai masa depan
Masa depan penuh harapan
Satu-satunya harapan yang aku punya
Hanyalah Kasih dan Pertolongan Tuhan
Semoga aku bisa terus bertahan
Menapaki setiap jalan kehidupan

Pribumi yang Tertindas

Perutku lapar meronta
Mau makan apa hari ini
Seharian tak sesuap penganan pun yang masuk rongga perutku
Ku pergi menuju tempat sampah terdekat
Kukorek-korek namun tak satu pun makanan ada di situ
Hanya ada kertas-kertas, plastik bungkus dan puntung rokok
Aku berpindah tempat
Nun jauh di sana tampak tempat sampah yang lain
Kukorek sekali lagi mencoba peruntunganku
Yang ada hanyalah kertas-kertas, plastik bungkus dan bangkai kucing mati
KasihanKucing itu mati
Mungkin mati kelaparan
Mati kelaparan di tempat sampah
Tempat sampah dekat restoran cepat saji makanan asing
Sungguh ironis
Mati di dekat makanan yang berlimpah restoran itu
Sungguh kasihan kucing itu
Sama seperti nasib bangsaku
Rakyat pribumi bangsa ini
Rakyat yang terbuang di negerinya sendiri
Rakyat yang kelaparan di negeri kaya
Pribumi malang yang mati kelaparan
Mati kelaparan di negeri mutiara khatulistiwa
Sementara ribuan rakyat bangsa penjarah datang
Mendapat restu entah dari siapa
Mudah dan leluasa menguras habis negeri ini
Sungguh ironis memang
Pribumi bangsa ini mati kelaparan
Bangsa pendatang bangsa penjarah mati kekenyangan
Kutukan apakah ini
Haruskah kita bangsa kulit berwarna selalu menjadi yang tertindas
Haruskah kita selalu menjadi warga kelas dua di negeri sendiri
Haruskah kita terusir dari desa nenek moyang kita
Hanya demi rumah dan vila mewah para bangsa pendatang
Atau demi padang golf kesenangan para cukong dan bangsa pendatang
Rakyat pribumi negeri ini tidak butuh golf
Rakyat pribumi negeri ini butuh makan enak
Rakyat negeri ini butuh makanan bergizi
Bukan singkong bulgur dan yang lainnya
Pribumi juga manusia
Pribumi juga doyan keju daging dan ikan
Pribumi tidak mau lagi mengencangkan ikan pinggang
Karena perut sudah tak lagi berdaging
Tinggal dua sentimeter lagi dan kami akan mati kelaparan
Haruskah kami mengencangkan ikat pinggang untuk kesekian kalinya
Hanya demi segelintir orang yang gila hormat
Perampas harta rakyat
Wajah-wajah manis perampas kehidupan
Kehidupan kami para pribumi
Karena kami juga manusia
Kami berhak hidup
Bukan sekedar hidup
Namun hidup dengan kualitas hidup yang baik
Hidup makmur berlimpah sandang pangan papan pendidikan
Bukannya sekedar janji kosong melompong
Seperti yang sudah ratusan tahun ini kami jalani
Kami bangsa pribumi sudah tidak bodoh seperti dulu lagi
Setelah ratusan tahun ditipu
Kami tidak lagi mau ditipu kembali
Terlebih oleh bangsa sendiri

Ikan Asin dan Nasi Aking

Akhirnya tercapai juga anganku demi membeli ikan asin
Ikan asin yang kubeli sangat murah di pasar
Terbayang harumnya ikan asin goreng
Terbayang akan nikmatnya santap siang
Berlauk nasi sambal dan ikan asin
Juga sayur lodeh dan tempe goreng
Ditambah kerupuk renyah pemberian tetangga
Wow sungguh kenikmatan tiada tara
Kenikmatan untuk rakyat kecil seperti aku
Rasa syukur bahwa di jaman sulit seperti ini
Aku masih bisa makan sesuap nasi
Di jaman serba sulit seperti sekarang
Setiap butir nasi sangatlah berharga
Aku teringat oleh penjual sayur keliling
Yang terkadang bertanya
Adakah kami mempunyai sisa nasi yang sudah basi
Karena nasi yang sudah basi pun masih berharga
Untuk pedagang kecil seperti dia
Nasi basi bisa dijemur
Lalu ditanak menjadi nasi aking
Diberi parutan kelapa dan garam
Dimakan bersama sambal
Nasi aking pun bisa berharga
Paling tidak untuk menyambung hidup
Memberi sekedar tenaga untuk mencari sesuap nasi buat besok
Inilah cerita tentang kami
Kehidupan rakyat kecil
Rakyat yang terpaksa makan nasi aking dan ikan asin
Di negeri kaya mutiara khatulistiwa

Aku dan Seniman Indonesia